Setelah Operasi Dilarang Makan Telur!
Ada suatu kepercayaan dari masyarakat Jawa yang entah sejak kapan mulainya yaitu setelah menjalani suatu operasi penderita diharamkan untuk mengkonsumsi telur, ikan, ataupun daging, lebih extreme- nya malah dianjurkan untukĀ mutih alias hanya diperbolehkan untuk mengkonsumsi nasi dan air putih.
Awalnya, pertama kali saya mendengar tentang kepercayaan ini cukup kaget juga, dizaman era informasi seperti ini masih saja ada yang mempercayai hal-hal seperti itu, namun ternyata tidak sedikit masyarakat Indonesia dari berbagai daerah yang memiliki kepercayaan sejenis.
Setelah berusaha mencari informasi lebih jauh, ternyata tidak semuanya juga yang tidak masuk akal, ada beberapa alasan yang dapat diterima oleh akal sehat :
Alergi - telur dan beberapa jenis protein memang sering sekali menimbulkan reaksi alergi pada individu tertentu, namun tentunya ini berarti mereka memang tidak dapat mengkonsumsi protein tertentu bukan saja setelah menjalani prosedur operasi, namun sebelum dan setelah sembuhpun mereka tidak dapat mengkonsumsinya. Beberapa laporan pasien dengan reaksi alergi yang berlebihan setelah mengkonsumsi kacang bahkan sampai menyebabkan kematian memang membuat kita tidak dapat menyepelekan alasan ini.
Mahal - mungkin sedikit lucu, tentu saja ini menjadi alasan yang penting, bagaimana pasien bisa mengkonsumsi protein jika tidak mampu membelinya? Tapi ternyata tidak sedikit yang sebenarnya memiliki alasan ini namun bersembunyi dibalik mitos makan telur akan membahayakan luka operasi , dimana luka akanĀ menjadi kemerahan, gatal, dan akhirnya dapat "jebol". Mengapa ini bisa terjadi? Karena sebagian besar pasien yang berobat ke rumah sakit di Indonesia adalah pasien tidak mampu. Dari beberapa pasien yang memegang teguh mitos ini, ternyata pada akhirnya setelah didesak secara halus mereka mengakui tidak mampu membeli lauk tersebut, jadi mereka hanya murni mengkonsumsi apa yang diberikan rumah sakit, terkadang malah makanan tersebut yang sedianya untuk sang pasien, dimakan berdua oleh penunggu pasien yang biasanya istri atau suaminya. Ironis, hal ini tentu saja membahayakan pasien yang membutuhkan perbaikan gizi. Setelah menjelaskan kepada mereka tetap saja mereka melakukan itu, mengapa? Kenyataannya apa yang dsediakan rumah sakit jauh lebih mewah dari apa yang sanggup mereka makan sehari-hari, menyedihkan, sebegitu terpuruknya perekonomian kita.
Diluar itu semua, bagi mereka yang masih memegang mitos ini dengan alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, perlu diketahui bahwa : telur, ikan dan daging merupakan sumber protein, yang tentu saja sangat berguna dalam proses penyembuhan luka. Jaringan tubuh kita dibangun oleh rangkain dari bermacam-macam protein, ibarat bangunan, bagaimana bisa diperbaiki dengan baik jika material yang dibutuhkan tidak tersedia? Tentu saja tidak mengecilkan peranan karbohidrat dan lemak yang ibarat paku dan air, semua saling melengkapi membangun tubuh kita, memperbaiki kerusakan yang terjadi.
Jadi, mitos ini seharusnya dipangkas habis dari otak masyarakat kita. Karena faktor gizi merupakan faktor terpenting dalam proses penyembuhan.










Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.